Ratna's Site

Belajar Bahasa arab Yuk…

“Belajar Bahasa Arab untuk Orang Indonesia” 31 Desember 2010

Filed under: Tak terkategori — Uci @ 1:45 am

http://www.freewebs.com/arabindo/isi.htm

 

التَّعَارُف 22 September 2010

Filed under: Tak terkategori — Uci @ 5:45 pm


: السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ خَالِد
: وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ خَلِيْل
: اِسْمِيْ خَالِد، مَا اسْمُكَ ؟ خَالِد

Namaku Khalid, siapa namamu?

: اِسْمِيْ خَلِيْل خَلِيْل
: كَيْفَ حَالُكَ ؟ خَالِد

Bagaimana keadaanmu (apa kabar)?

: بِخَيْرٍ، وَالْحَمْدُ للهِ. وَكَيْفَ حَالُكَ أَنْتَ ؟ خَلِيْل

Baik, alhamdulillah. Kalau kamu bagaimana?

: بِخَيْرٍ، وَالْحَمْدُ للهِ

 

RPP 31 Agustus 2010

Filed under: RPP — Uci @ 8:10 am

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Satuan Pendidikan :Sekolah Dasar Islam Terpadu Al- Manar
Mata Pelajaran :Bahasa Arab
Tema :Keluarga / ﺍﺴﺮﺓ
Kelas/ semester :V / Ganjil
Pertemuan ke :I (satu)
Alokasi Waktu :2 X 35 Menit

Kompetensi Dasar
Siswa mampu menyimak, bercakap, membaca, menulis dalam bahasa arab tentang ” ﺍﺴﺮﺓ ” dengan pola/ struktur kalimat yang meliputi ﺍﺴﻡﺍﻹﺸﺎﺮﺓ + ﻤﺎ + ﻤﻦ + ﻫﻞ + ﻧﻌﻡ + ﻻ+ ﻋﻟﻢ

Indikator
Siswa dapat :
1. Dapat membaca bahan bacaan dengan lafal dan intonasi yang baik dan benar.
2. Dapat memahami bacaan dengan mengetahui arti mufrodat.
3. Mendemonstrasikan materi muhadatsah dan tanya jawab dengan pola kalimat yang telah dipelajari/ tentukan.
4. Menulis huruf arab dalam kata-kata maupun kalimat.

Materi Pokok
ﻫﻧﻩﺻﻭﺮﺗﻲ + ﻣﻦﺗﻠﻙ ﻫﻞﻫﻧﺍﺍﺒﻭﻙ
ﻣﺎﻣﻬﻨﺗﻪ ﻣﺎﺍﺴﻢﺍﺨﺗﻙ

Skenario Pembelajaran
Kegiatan awal:
a. Membentuk kelompok terdiri dari 4 kelompok.
b. Memberikan aturan main/ penjelasan dan sistem penilaian.

Kegiatan Inti:
a. Membaca bahan bacaan bergantian dengan intonasi yang baik dan benar.
b. Mencari arti mufrodat dengan fasilitator guru.
c. Mencari soal dan jawaban dari bacaan yang ditentukan.
d. Melakukan tanya jawab dengan anggota kelompoknya masing-masing.

Kegiatan Akhir:
a. Menarik kesimpulan.
b. Penugasan/ Pekerjaan rumah.

Sumber dan Media
– Buku Silabus.
– Buku bahasa arab penunjang.
– Kaset
– CD
– Kamus

Penilaian
Penilaian aktifitas selama KBM dengan memperhatikan aspek kognitif, psikomotorik dan afektif.

Jakarta, 7 Januari 2009
Mengetahui
Kepala Sekolah

(Drs. Supianto)
Guru Mata Pelajaran

(Ratna Suci, S.Pd.I)

 

Mubtada (diterangkan) & Khabar (menerangkan) 10 Februari 2009

Filed under: Belajar Bahasa Arab — Uci @ 2:34 am
Tags:

Mubtada dan Khabar

Contoh-contoh:

1. Apel itu manis

2. Gambar itu indah

3. Lari itu bermanfaat

4. Kereta itu cepat

5. Kebersihan adalah kewajiban

6. Bumi itu bulat

Pembahasan:

contoh-contoh di atas semuanya adalah kalimat, dan setiap kalimat tersebut disusun dari 2 isim, isim yang pertama adalah yang memulai suatu kalimat yang disebut “mubtada”. Maka jika kita cukupkan saja pada kata yang pertama kemudian kita berkata: “apel..”, atau “gambar..”, “lari…” maka pastilah ada pertanyaan selanjutnya: “ya, kenapa apel? Kenapa gambar? Kenapa lari?”. Oleh karena itu jika kita katakan Apel itu manis, gambar itu bagus, lari itu bermanfaat, pastilah kalimat ini bisa dipahami dengan sempurna. Dan yang membuat kita paham adalah isim kedua pada setiap kalimat, yang memberi keterangan tentang manisnya apel, indahnya gambar, dan bermanfaatnya lari. Semua ini dinamakan khabar.. Jika kita perhatikan bahwa akhir setiap isim dari dua isim ini kita mendapatinya dirafa’kan (dalam makna sederhananyam didhammahkan).

KAIDAH:

9. Mubtada adalah isim yang dirafa’kan yang ada pada awal kalimat

10. Khabar adalah isim yang dirafa’kan yang bersatu dengan mubtada agar menjadi jumlah mufidah.

*********

notes: dalam bahasa indonesia susunan seperti ini biasa kita kenal dengan kalimat diterangkan dan menerangkan. dimana mubtada adalah yag diterangkan, khabar yang mnerangkan.

 

Pembagian Fi’il (kata kerja) Berdasarkan Waktu 10 Februari 2009

Filed under: Belajar Bahasa Arab — Uci @ 2:21 am
Tags:

Pembagian Fi’il Berdasarkan Wakt

(1) Fi’il Madhi

Contoh-contoh:

1. Seekor anjing telah berlari

2. Seorang laki-laki telah berdiri

3. Sebuah kitab telah hilang

4. Sebuah jam telah berdering

5. Seorang anak perempuan telah datang

6. Ayam telah berkokok

Pembahasan:

perhatikanlah kalimat pertama pada contoh-contoh di atas kalian akan mendapati fi’il-fi’il karena setiap kata itu menunjukkan suatu perbuatan pada waktu tertentu yaitu waktu lampau. Maka kata جَرَى pada contoh menunjukkan perbuatan “berlari” yang telah terjadi sebelum pembicaraan. Begitu juga kata وَقَفَ menunjukkan perbuatan “duduk” yang telah terjadi sebelum pembicaraan. Oleh karena itu setiap kata ini disebut dengan “FI”IL MADHY”.

KAIDAH:

4. Fi’il Madhy adalah setiap perbuatan yang terjadi pada waktu yang telah lewat (past tense)

(2) Fi’il Mudhari’

Contoh:

1. Aku mencuci tanganku

2. Aku mengenakan bajuku

3. Aku bermain bola

4. Kami berjalan di trotoar

5. Anjing menggonggong

6. Pengawas Mengamati

7. Anak perempuan makan

8. Bunga mawar layu

Pembahasan:

kata-kata pertama pada contoh-contoh di atas semuanya adalah fi’il. Karena semuanya menunjukkan suatu perbuatan pada waktu tertentu. Jika dilihat, kata kerja ini bisa memilki makan yang sedang berlangsung atau akan berlangsung. Maka kata اَغْسِلُ menunjukkan perbuatan “mencuci” pada saat yang sedang berlangsung atau akan berlangsung. Setiap kata kerja ini dinamakan dengan “FI’IL MUDHARI’”.

Jika kamu perhatikan huruf pertama pada fi’il mudhari’ maka kamu akan mendapati bahwa hanya ada hamzah 5.atau nun atau ya atau ta (disingkat aniyta). Empat huruf ini dinamakan dengan اَحْرُفُ المُضَارَعَة huruf-huruf mudhara’ah.

KAIDAH:

fi’il mudhari’ adalah setiap kata kerja yang menunjukkan perbuatan pada waktu yang sedang berlangsung atau akan berlangsung. Fi’il mudhari pasti selalu diawali salah satu dari 4 huruf mudharaah yiatu hamzah, nun, ya dan ta.

(3) Fi’il Amar

Contoh-contoh:

1. Bermain bola lah kamu!

2. Beri makan kucingmu!

3. Bersihkan bajumu!

4. Tidurlah lebih awal!

5. Pelan-pelan dalam berjalan!

6. berusahalah mengunyah makanan!

Pembahasan:

Kata pertama dari setiap contoh di atas adalah fi’il karena menunjukkan atas perbuatan pada waktu yan tertentu. JIka diperhatikan, akan kita dapati bahwa setiap kata kerja itu menuntut dilakukannya sesuatu pada waktu yang akan dating sehingga karena itu dinamakan “FI”IL AMAR” (kata kerja perintah). Maka kata kerja “اِلْعَبْ pada contoh pertama menuntut yang diajak bicara akan pekerjaan “bermain” pada waktu yang akan datang. Begitu pula dengan kata kerja “اَطْعِمْ” menuntut kepada perbuatan “memakan” bagi yang diajak bicara pada waktu yang akan datang.

KAIDAH:

6. Fi’il Amr adalah setiap kata kerja yang menuntut dikerjakannya sesuatu pada masa yang akan datang (kata perintah).

 

Isim Mudzakkar & Muannats 10 Februari 2009

Filed under: Belajar Bahasa Arab — Uci @ 1:46 am
Tags:

sekarang.. ayo kita bahas lagi sedikit tentang jenis-jenis isim..  kan kita tau tuh kalo isim itu banyak macemnya. Nah, kesempatan kali ini kita kan ngebahas isim dari segi jenisnya… yaitu

  1. Isim Mudzakkar (اسم مذكر)

  2. Isim Muannats (اسم مؤنث)

Pertama: Isim mudzakkar

Mudzakkar secara bahasa memiliki arti laki-laki. secara istilah, isim mudzakkar adalah kata benda yang merupakan masuk ke dalam jenis laki-laki (loh!). mungkin ada yang nanya, mang ada benda yang punya jenis kelamin? ok.. maksudnya disini. Sederhananya.. semua nama manusia yang laki-laki dan nama benda yang tidak mengandung huruf ta marbuthah (ة) maka itu termasuk isim mudzakkar…

contoh isim mudzakkar:

  • nama orang : اَحْمَدْ, زَيْدْ, يُوْسُفْ, نُوْحْ dan semua nama laki-laki..

  • nama benda: buku (كِتَابٌ), pulpen (قَلَمٌ), baju(ثَوْبٌ) dan semua nama benda yang tidak mengandung huruf ta marbuthah..

kedua : Isim Muannats

Muannats secara bahasa memiliki arti wanita. Jadi, isim muannats semua isim yang masuk ke dalam jenis wanita. Sederhananya, isim muannats itu, semua nama wanita dan isim-isim yang mengandung huruf ta marbuthah. Contohnya:

  • nama wanita :فَاطِمَةْ, خَدِيْجَةْ. عَائِشَةْ dan semua nama wanita.

  • nama benda : sekolah (مَدْرَسَةٌ), universitas (جَامِعَةٌ), kipas angin (مِرْوَحَةٌ) dan semua nama benda yang mengandung ta marbuthah..

catatan penting:

ternyata ada isim muannats yang secara dzahir terlihat seperti mudzakkar, sebaliknya ada juga isim mudzakkar yang secara dzahir merupakan isim muannats.. contohnya nama hindun (هِنْدٌ) . Secara dzahir, hindun itu isim mudzakkar.. iya gak? Soalnya gada ta marbuthahnya. Tetapi secara hakiki, hindun itu isim muannats.. buktinya, nama ini digunakan sebagai nama wanita. kemudian contoh yang kedua usamah (اُسَامَةْ). secara dzahir, nama ini masuk ke jenis isim muannats, akan tetapi pada kenyataannya (hakiki) nama ini digunakan untuk nama laki-laki…. maka dikatakan usamah itu mudzakkar hakiki. Ngerti kan? mudah-mudahan…

Kesimpulan:

  • setiap isim yang mengandung ta marbuthah maka isim itu muannats

  • setiap isim yang tidak mengandung ta marbuthah maka isim itu mudzakkar.

  • setiap nama orang yang digunakan untuk laki-laki maka termasuk mudzakkar meskipun ssecara dhahir muannats.

  • Setiap nama orang yang digunakan untuk wanita maka termasuk muannats meskipun secara dhahir mudzakkar.

Tambahan:

setiap nama negara seperti indonesia, malaysia, iran, dsb termasuk ke dalam isim muannats


 

Pengenalan Fi’il, Isim, dan Huruf 10 Februari 2009

Filed under: Tak terkategori — Uci @ 1:41 am

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…

Perlu kita ketahui bersama bahwa sebuah kalimat dalam bahasa arab itu tersusun dari tiga hal:

  1. Fi’il (kata kerja)

  2. Isim (kata benda)

  3. Huruf yang memiliki makna

sekarang, mari kita bahas secara singkat istilah-istilah yang telah saya sebutkan di atas;

Pertama: Fi’il (الفعل ِ)

Al Fi’lu atau fi’il secara bahasa memiliki makna perbuatan atau kata kerja. Sedangkan menurut istilah dalam ilmu nahwu, fi’il adalah kata yang menunjukkan suatu makna yang ada pada zatnya serta terkait dengan waktu. Fi’il itu ada tiga:

  1. Fi’il Madhi (فعل الماضي)

  2. Fi’il Mudhori’ (فعل المضارع)

  3. Fi’il Amar (فعل الامر)

Penjelasan:

  1. Fi’il Madhi adalah kata kerja untuk masa lampau atau dalam istilah bahasa inggrisnya adalah past tense yang memiliki arti telah melakukan sesuatu. Contohnya: قَامَ (telah berdiri) atau جَلَسَ (telah duduk).

  2. Fi’il Mudhari’ adalah kata kerja yang memiliki arti sedang melakukan sesuatu atau dalam istilah bahasa inggrisnya present continues tense. Contohnya: يَقُوْمُ (sedang berdiri) atau يَجْلِسََُ (sedang duduk).

  3. Fi’il Amar adalah kata kerja untuk perintah. Contohnya قُمْ (bangunlah!) atau اِجْلِسْ(duduklah!).

Kedua: Isim (ألاِسْمُ)

Isim secara bahasa memiliki arti yang dinamakan atau nama atau kata benda. Sedangkan menurut ulama nahwu, isim adalah kata yang menunjukkan suatu makna yang ada pada zatnya akan tetapi tidak berkaitan dengan waktu. Isim itu terbagi-bagi menjadi beberapa jenis yang bisa dikelompokkan sesuai dengan kelompoknya. Karena isim banyak sekali, maka kita tidak membahasnya disini. Akan tetapi, untuk memberi pengertian dasar tentang isim, maka berikut contohnya: زَيْدٌ artinya Zaid (Isim ‘Alam = nama orang), جََاكَرْتَا artinya Jakarta (nama tempat), هَذَا artinya ini (kata tunjuk), اَنَا artinya saya (kata ganti) dan contoh-contoh yang lain.

Ketiga: Huruf yang memiliki arti (الْحَرْفُ)

Huruf secara bahasa memilki arti huruf seperti yang kita kenal dalam bahasa indonesia ada 26 huruf. Sedangkan dalm bahasa arab kita mengenal ada 28 huruf yang kita kenal dengan huruf hijaiyah. Akan tetapi, huruf yang dimaksud disini bukan setiap huruf hijaiyah melainkan huruf hijaiyah yang memiliki arti seperti وَ(dan) فَ(maka) بِ(dengan)لِ (untuk) سَ(akan) كَ(seperti). Adapun huruf-huruf seperti Alif, Ta, Tsa, dan yang lain yang tidak memiliki arti maka tidak dapat menyusun suatu kalimat, melainkan hanya menyusun suatu kata saja.

Maka dapat kita simpulkan bahwa fi’il adalah kata kerja, isim adalah kata benda dan setiap kata selain kata kerja, dan huruf disini adalah setiap huruf hijaiyah yang memiliki arti.

Selesai… semoga Allah memudahkan kita dalam menuntut ilmu.. Amien..

 

Alasan Belajar Bahasa Arab 27 Januari 2009

Filed under: Belajar Bahasa Arab — Uci @ 8:20 am
Tags:
7 Alasan Belajar Bahasa Arab PDF E-mail

Sesungguhnya Allah swt telah memilih bahasa Arab sebagai bahasa penutup risalah-Nya (wahyu-Nya). Hal ini telah dijelaskan dalam ayat Al-Qur’an dalam banyak tempat dan secara jelas bahwasanya risalah-Nya yang terakhir diturunkan dalam bahasa Arab. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa al–Qur’an berupa al–Qur’an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (QS. Yusuf:2).

Sesungguhnya umat Islam di zaman-zaman awal sudah merasakan manfaat yang sangat besar dari bahasa Arab tersebut dan banyak sekali tujuan-tujuan mulia terwujud dengan perantara bahasa Arab. Tidaklah bahasa Arab sebagai bahasa risalah (wahyu) semata dan pada saat tersebutlah umat Islam menjadi umat yang sangat mulia dan sejahtera

Pada zaman kita banyak sekali perhatian orang-orang Arab dan kaum muslim terhadap belajar dan mengajarnya (bahasa Arab), perhatian umat muslim baik dahulu ataupun sekarang dikarenakan beberapa sebab:

1.    Bahasa Arab merupakan bagian dari agama ini. Telah berkata Ibnu Taimiyah rahimahullah, “Merupakan sesuatu yang sudah diketahui bersama bahwasanya belajar dan mengajarkan bahasa Arab hukumnya fardhu kifayah” dan beliau juga berkata, “Sesungguhnya bahasa Arab merupakan bagian dari agama dan mengetahuinya wajib,  karena memahami Al-Qur’an dan sunnah wajib. Dan keduanya tidak dapat dipahami kecuali dengan bahasa Arab dan apa yang suatu kewajiban tidak akan terwujud kecuali dengannya maka sesuatu itu menjadi  wajib.”

Ibadah-ibadah baik shalat, do’a, membaca Qur’an serta banyak sekali syi’ar-syi’ar Islam akan terpenuhi dan sempurna dengan mempelajari bahasa Arab.

2.    Memahami bahasa Arab menjadikan kita selamat dari syubhat-syubhat dan bid’ah. Imam Syafi’I rahimahullah berkata, “Tidaklah kebodohan dan perbedaan-perbedaan yang terjadi pada manusia (umat muslim) melainkan karena mereka meninggalkan bahasa Arab dan mereka lebih memilih bahasa Aristoteles (bahasa orang barat).”

Beliau juga berkata, “Tak seorang pun akan mengetahui jelasnya ilmu-ilmu dalam Al Qur’an selama orang itu tidak mengetahui luasnya bahasa Arab, luasnya cakupannya, luasnya masalah dan tingkatannya dan barangsiapa memahaminya maka dia akan selamat dari terkena syubhat seperti yang terjadi pada orang-orang yang tidak memahaminya”.

As-Suyuti rahimahullah berkata, “Sesungguhnya saya telah menemukan orang-orang sebelum Imam Syafi’I, mereka mengisyaratkan seperti yang saya duga bahwa sebab terjadinya bid’ah adalah tidak memahami bahasa Arab.” Hasan Bashri berkata terhadap orang-orang Ahlu Bid’ah, “Yang menghancurkan mereka adalah ketidaktahuan mereka terhadap bahasa Arab.”

3.    Paham bahasa Arab adalah salah satu dari sebab-sebab kemudahan.

4.    Bahasa Arab merupakan syi’ar Islam, bagian dari Islam dan bahasa Arab merupakan syi’ar yang paling besar yang dengannya menunjukkan kelebihan mereka.

5.    Kuatnya bahasa Arab merupakan salah satu sebab kemuliaan Islam dan kaum muslimin. Musthofa Shodiq Arrofi’ berkata, “Tidaklah bahasa suatu kaum itu rendah kecuali mereka akan direndahkan dan kemuliaannya tidaklah menjadikan kekuasaan itu pergi meninggalkan mereka. Oleh karena itu, penjajah asing mewajibkan (bahasa mereka untuk dipelajari) kepada kaum yang mereka jajah.”

6.    Bahasa Arab merupakan sarana terkuat untuk mewujudkan persatuan / hubungan diantara umat muslim. Pada saat mereka bersemangat mengajarkan bahasa Arab guna mewujudkan kedekatannya kepada bahasa Arab, maka akan terwujud keseragaman pada dhahirnya (yaitu dengan bahasanya) sehingga terwujud pula keseragaman di hati mereka, dikarenakan mereka dapat memahami peradaban dan keyakinan beragama yang sama.

7.    Pengajaran bahasa Arab merupakan sarana terpenting guna mewujudkan peradaban Islam dan dengan bahasa akan mengangkat peradaban pemilik bahasa tersebut.

(Abu Ayyub), Diterjemahkan bebas dari Kitab al – ‘Arabiyah Baina Yadaika.

 

KIAT SUKSES BELAJAR BAHASA ARAB 27 Januari 2009

Filed under: Motivasi — Uci @ 8:03 am

Berikut ini sebagian kiat yang bisa dilakukan untuk mempercepat penguasaan kaidah bahasa Arab. Kami menuliskannya berdasarkan pengalaman kami sendiri mengajar bahasa Arab dan membaca kitab sejak beberapa tahun lamanya –walhamdulillah- :

  1. Hendaknya kita mengikhlaskan niat dalam belajar untuk menunaikan kewajiban kita kepada Allah dan membekali diri dengan ilmu agar bisa beramal saleh. Karena amal tidak akan diterima tanpa niat dan cara yang benar. Sementara niat dan cara yang benar tidak akan diperoleh kecuali dengan ilmu. Oleh sebab itu imam Bukhari rahimahullah membuat sebuah bab dalam Kitabul Ilmi di kitab sahih Bukhari yang berjudul ‘Ilmu sebelum ucapan dan perbuatan’. Dalilnya adalah firman Allah 9yang artinya), “Ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan (yang benar) selain Allah dan mintalah ampunan untuk dosamu…” (QS. Muhammad : 19). Selain itu hendaknya kita berdoa kepada Allah untuk diberikan ilmu yang bermanfaat.
  2. Sebelum lebih jauh mempelajari kaidah bahasa Arab maka sudah semestinya kita mempelajari cara membaca Al-Qur’an dengan benar sesuai dengan hukum-hukum tajwid agar tidak salah dalam membaca atau mengucapkan. Padahal, salah baca atau salah ucap akan menimbulkan perbedaan makna bahkan memutarbalikkan fakta. Suatu kata yang seharusnya berkedudukan sebagai pelaku berubah menjadi objek dan seterusnya. Tentu saja hal ini –membaca dengan benar serta mengikuti kaidah-tidak bisa disepelekan.
  3. Menambah kosakata merupakan salah satu sebab utama untuk melancarkan proses belajar kaidah dan membaca kitab. Hal ini dapat dilakukan dengan cara membeli Kamus Bahasa Arab-Indonesia seperti Al-Munawwir, atau dengan membeli kamus kecil Al-Mufradat yang berisi kosakata yang sering digunakan dalam kitab-kitab para ulama. Selain itu bisa juga dengan membeli satu jenis buku dengan 2 versi; asli bahasa Arab dan terjemahan. Dengan memiliki kitab berbahasa Arab akan memacu pemiliknya untuk bisa membacanya. Sedangkan dengan terjemahannya akan membantu dalam proses belajar membaca kitab ketika menemukan kata-kata atau ungkapan yang susah dimengerti.
  4. Hendaknya mencari guru yang benar-benar memahami materi kaidah bahasa Arab dan bisa mengajarkannya. Untuk poin ini mungkin sangat bervariasi –tidak bisa diberi batasan yang kaku-, karena tingkat pemahaman orang terhadap kaidah bahasa arab juga bertingkat-tingkat. Hanya saja yang dimaksud di sini adalah perlunya memilih guru yang mengajarkan materi dengan dasar ilmu bukan dengan kebodohan.
  5. Dibutuhkan kesabaran untuk terus mengikuti pelajaran dan mengulang-ulang pelajaran (muraja’ah) agar pemahaman yang dimiliki semakin kuat tertanam. Apabila menemukan hal-halyang belum dipahami hendaknya segera menanyakan kepada pengajar atau orang yang lebih tahu dalam hal itu. Az-Zuhri rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya ilmu itu dicari seiring dengan perjalanan siang dan malam, barangsiapa yang ingin mendapatkan segudang ilmu secara tiba-tiba niscaya ilmu yang diperolehnya akan cepat hilang.”
  6. Hendaknya bersungguh-sungguh dalam belajar. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami niscaya Kami pun akan memudahkan baginya jalan-jalan menuju keridhaan Kami.” (QS. Al-Ankabut : 69). Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan bahwa di dalam ayat ini Allah ta’ala mengaitkan antara hidayah dengan kesungguh-sungguhan/jihad. Maka orang yang paling besar hidayahnya adalah orang yang paling besar kesungguhan/jihadnya. Pepatah arab mengatakan, “Barangsiapa yang bersungguh-sungguh, niscaya dia akan mendapatkan.”
  7. Untuk bisa mendukung pembelajaran bahasa Arab bagi pemula maka mengikuti kajian-kajian kitab berbahasa Arab merupakan salah satu sarana yang paling efektif untuk membiasakan diri dengan kata atau istilah bahasa Arab yang termaktub di kitab-kitab para ulama. Kitab-kitab yang sudah semestinya dikaji oleh pemula adalah kitab-kitab yang membahas perkara-perkara agama yang harus dipahaminya seperti kitab yang membahas dasar-dasar tauhid semacam Al-Qawa’id Al-Arba’, Tsalatsatu Ushul, dan Kitab Tauhid yang ketiga-tiganya merupakan karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah. Apabila tidak bisa mengikuti secara langsung maka bisa diupayakan dengan mendengarkan CD kajiannya atau bahkan kalau ada yang berupa format VCD.
  8. Membaca buku pelajaran kaidah bahasa Arab. Buku-buku pelajaran kaidah bahasa Arab dengan pengantar bahasa Indonesia yang bisa didapatkan misalnya; Ilmu Nahwu Praktis sistem belajar 40 jam karya A. Zakaria (untuk pemula) dan Ringkasan Kaidah-Kaidah Bahasa Arab karya Ustadz Aunur rafiq Ghufron, Lc. (untuk menengah). Atau bagi yang ingin mendengarkan audio pelajaran bahasa Arab bisa mendownload di internet dengan alamat http://badar.muslim.or.id
 

Belajar bahasa Arab Yuuk… 20 Januari 2009

Filed under: Motivasi — Uci @ 7:47 am

Sebagaimana yang telah menjadi keyakinan dalam diri kita adalah bahwasanya jalan yang memberi kita jaminan keselamatan dan kenikmatan Islam adalah satu dan tidak berbilang-bilang yaitu mengilmui dan mengamalkan ajaran Al-Kitab dan As-Sunnah sesuai dengan yang diajarkan Rosululloh dan dipahami oleh para sahabatnya. Dalam hadits riwayat Imam Muslim disebutkan, “Aku tinggalkan sesuatu bersama kalian, jika kamu berpegang teguh padanya, kalian tidak akan tersesat selama-lamanya yaitu Kitabulloh dan Sunnahku”.

Dan Alloh telah menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa Al-Quran karena bahasa Arab adalah bahasa terbaik yang pernah ada sebagaimana firman Alloh, “Sesungguhnya Kami telah jadikan Al-Quran dalam bahasa Arab supaya kalian memikirkannya.”(Yusuf : 2) .Oleh karena itu tidak perlu diragukan lagi, memang sudah seharusnya bagi seorang muslim mencintai bahasa Arab dan berusaha menguasainya. Hal ini ditegaskan oleh firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala, “Dan sesungguhnya Al-Quran ini benar-benar diturunkan oleh Pencipta Semesta Alam ,dia dibawa turun oleh Ar ruh Al-Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas”(Asy Syu’ara:192-195).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Sesungguhnya ketika Allah menurunkan kitab-Nya dan menjadikan Rasul-Nya sebagai penyampai risalah (Al-Kitab) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta menjadikan generasi awal agama ini berkomunikasi dengan bahasa Arab, maka tidak ada jalan lain dalam memahami dan mengetahui ajaran Islam kecuali dengan bahasa Arab. Oleh karena itu memahami bahasa Arab merupakan bagian dari agama. Keterbiasaan berkomunikasi dengan bahasa Arab mempermudah kaum muslimin memahami agama Alloh dan menegakkan syiar-syiar agama ini, serta memudahkan dalam mencontoh generasi awal dari kaum Muhajirin dan Anshar dalam keseluruhan perkara mereka.” (Iqtidho Shirotil Mustaqim:162)

Beliau juga berkata, “Dan sesungguhnya bahasa Arab itu sendiri bagian dari agama dan hukum mempelajarinya adalah wajib, karena memahami Al-Kitab dan As-Sunnah itu wajib dan keduanya tidaklah bisa dipahami kecuali dengan memahami bahasa Arab. Hal ini sesuai dengan kaidah di dalam ilmu ushul fiqh : apa yang tidak sempurna suatu kewajiban kecuali dengannya maka ia juga hukumnya wajib. Namun di sana ada bagian dari bahasa Arab yang wajib ‘ain dan ada yang wajib kifayah. Dan hal ini sesuai dengan apa yang diriwayatkan oleh Abu Bakar bin Abi Syaibah, dari Umar bin Yazid, beliau berkata : Umar bin Khoththob menulis kepada Abu Musa Al-Asy’ari (yang isinya) “…Pelajarilah As-Sunnah, pelajarilah bahasa Arab dan i’roblah Al-Quran karena Al-Quran itu berbahasa Arab.” Dan pada riwayat lain, beliau (Umar bin Khattab) berkata, “Pelajarilah bahasa Arab sesungguhnya ia termasuk bagian dari agama kalian, dan belajarlah ilmu faroid (ilmu waris) karena sesungguhnya ia termasuk bagian dari agama kalian.”(Iqtidho Shirotil Ibrohim]Mustaqim:207)

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa bahasa Arab adalah bahasa agama Islam dan bahasa Al-Quran, tidak akan dapat memahami Al Kitab dan As Sunnah dengan pemahaman yang benar dan selamat (dari penyelewengan) kecuali dengan bahasa Arab. Menyepelekan dan menggampangkan bahasa Arab akan mengakibatkan lemah dalam memahami agama serta jahil (bodoh) terhadap permasalahan agama. Marilah kita pelajari bahasa Arab…!

 

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.